Minggu, 27 Oktober 2013

Hujan si Peneduh Hati

Saatnya aku mengawali hari ini, karena ini hari pertamaku pindah ke kota Athravasa. Hari ini sangat cerah sekali. Tapi, entah kenapa saat aku setengah perjalanan pulang, langsung turun rintik-rintik hujan. Akupun menepi di sebuah ruko yang masih tertutup. Aku melihat seorang perempuan sedang berteduh. Aku pun bersikap ramah kepadanya untuk ijin numpang berteduh. Dia mengiyakan melalui senyumnya. Duh, senyumnya dan lesung pipinya, manis sekali, dan wajahnya teduh, mendamaikan hati.
Lama sekali hujan dikala itu. Aku masih terdiam di hujan itu. Aku menengoknya, dia tersenyum saat menatap hujan. Aku pun heran. Ingin sekali mengobrol dengannya, tapi mulutku seperti tidak bisa bicara, gugup. Ah, sudahlah, dengan menatapnya saja aku sudah senang.

Akhirnya, hujan pun berhenti. Aku pamit duluan kepada perempuan itu. Iya pun tersenyum kepadaku lagi sambil melambaikan tangannya kepadaku. Pada hari yang sama, malam itu, hujan pun kembali turun. Entah kenapa, aku kepikiran perempuan itu lagi. Apakah aku suka kepadanya? Aku menatap jendela sejenak, kulihat samar-samar ada perempuan itu sedang tersenyum kepadaku dilangit. Dalam hatiku "Itu gak mungkin, pasti aku terlalu kelelahan". Aku pun segera tidur untuk menyangkal apa yang kulihat.
Esoknya, temanku bercerita, dulu, di daerah Akrhavasa, terdapat suku hujan, mereka bisa merasakan perasaan hujan dan merasakan perasaan orang di sekitar mereka dengan hujan.
Mungkin, pada saat itu, dia mungkin tahu, bahwa aku suka kepadanya.
Pada saat itu, aku menyukai hujan.
Hujan yang bisa mewakili perasaan disetiap rintikannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar